
Jubir Muslimah Hizbut-Tahrir : Pendidikan Seks Bukan Solusi Cegah Video Mesum Pelajar
Setelah beredarnya #video #mesum pelajar SMP di Jakarta Pusat baru-baru
ini, pendidikan #seks kembali marak diwacanakan, salah satunya oleh
Wakil Gubernur Jakarta #Ahok.
“Saya rasa pendidikan seks di sekolah penting. Ini untuk mencegah
berbagai perilaku asusila di kalangan pelajar,” kata Ahok di Balai Kota
Jakarta, Selasa (22/10).
Benarkah dengan pendidikan #seks masalah rusaknya susila pelajar terselesaikan?
Lantas apa solusi tuntasnya? Temukan jawabannya dalam wawancara
wartawan mediaumat.com Joko Prasetyo dengan Jubir Muslimah Hizbut Tahrir
Indonesia Iffah Ainur Rahmah. Berikut petikannya.
Benarkah solusi terkait video porno yang dibuat siswa-siswi SMP tersebut adalah dengan pendidikan seks?
Jelas
tidak bisa. Ini masalah yang kompleks. Bukan hanya soal minimnya
pengetahuan remaja terhadap dampak buruk seks bebas atau karena tidak
fahamnya remaja bagaimana menjaga organ seksual sementara mereka di
usia atau fase keingintahuan yang besar dan ingin mencoba-coba hal
baru.
Remaja kita hari ini hidup terkungkung sistem rusak. Pendidikan keluarga tidak menanamkan pondasi iman yang kuat dan menuntun penemuan jatidiri sebagai hamba Allah.
Mereka juga menjadi korban kurikulum sekolah yang sekuler dan liberal dan tidak membangun kepribadian luhur.
Di luar keluarga dan sekolah mereka digempur dengan berbagai pemikiran dan konten porno yang merangsang naluri seksual mereka.
Apalagi
pendidikan seks yang ditawarkan saat ini adalah program yang disebut
dengan Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) ala UNAIDS. Materi dan metode penyampaiannya sangat liberal.
Hanya fokus pada membekali remaja agar perilaku seksualnya ‘aman’ dan
‘sehat’ yakni terhindar dari risiko kehamilan dan bahaya penyakit
menular seksual.
Alih-alih
membuat remaja berhati-hati agar tidak melakukan seks bebas, malah
membuat mereka merasa aman-aman saja melakukannya karena bisa
menghindari risiko.
Mengapa?
Karena dalam KRR tersebut tidak ada sedikit pun peringatan bahwa pelaku seks bebas tidak akan pernah aman dari azab Allah.
Buktinya? Setelah beberapa tahun dimasukkan dalam kurikulum berbagai
sekolah menengah, justru peningkatan perilaku seks bebas di kalangan
remaja yang terjadi. Apakah program ini yang juga akan diaruskan untuk dilakukan orang tua di rumah?! Pendidikan seks ini tidak mendidik tapi malah menyesatkan!
Bagaimana pandangan Islam tentang pendidikan seks?
‘Pendidikan seks’ dalam Islam diberikan sebagai bagian tak terpisahkan dari penanaman akidah, ibadah dan akhlak.
Asasnya adalah memahamkan siapa jatidiri dan apa tujuan hidup serta bagaimana meraih tujuan hidup manusia.
Materinya akan menjelaskan tentang perkembangan organ reproduksi yang
akan/sedang dialami remaja ketika mengalami pubertas, apa konsekuensinya
dan bagaimana seharusnya bersikap.
Juga memahamkan tentang adanya fitrah manusia berupa naluri seksual
(gharizah nau’) berikut karakteristiknya, apa saja yang bisa merangsang
munculnya naluri tersebut, bagaimana mengendalikannya, bagaimana
pemenuhan yang benar dan yang salah berikut konsekuensinya.
Dalam
kitab-kitab fiqih para ulama menjelaskan bahwa orang tua bertanggung
jawab menjelaskan panduan Islam dalam mengatur pemenuhan naluri seksual
secara benar.
Seperti apa?
Sejak
dini anak-anak dibiasakan malu menampakkan auratnya apalagi organ
seksualnya di hadapan orang lain, menanamkan maskulinitas dan feminitas
masing-masing anak agar tidak merangsang terjadinya penyimpangan,
memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan, mengajarkan minta
ijin masuk ke kamar orang dewasa, mengenalkan mahram, menjaga pandangan,
melarang khalwat dan ikhtilat, mengenalkan tanda-tanda dewasa (ihtilam
dan haidl) berikut konsekuensinya dan seterusnya.
Demikianlah
bila orangtua menjalankan amanahnya untuk mendidik putera-puterinya
sesuai tuntunan syariat Islam, tidak lagi diperlukan program pendidikan
seks. Dan tidak benar kalau ada orang tua yang menganggap tabu membicarakan naluri seksual ini dengan anak.
Yang tabu adalah menyampaikannya dengan vulgar yang justru merangsang
munculnya naluri tersebut sebagaimana nampak pada program KRR saat ini.
Bagaimana Islam mengatasi maraknya video mesum pelajar?
Harus dihapus semua ide, pemikiran,kurikulum dan kebijakan negara yang liberal dan sekuler.
Untuk mengatasi tuntas masalah ini, Islam mencegah terjadinya pemenuhan
naluri seksual yang salah dengan meminimalisir keberadaan hal-hal yang
bisa merangsang bergejolaknya naluri seksual pada diri manusia, kecuali
di dalam kehidupan khusus (kehidupan pernikahan). Harus dilakukan bersama-sama baik oleh sistem (dalam kebijakan negara) maupun diusahakan oleh individunya.
Apa yang harus dilakukan negara?
Pertama, negara melarang beredarnya rangsangan naluri seksual tersebut di kehidupan umum secara mutlak. Seperti keberadaan VCD porno, majalah porno, internet porno, tontonan erotis di televisi atau di jalan-jalan.
Kedua,
negara memberlakukan aturan interaksi laki-laki perempuan yang menjaga
kehormatan, mencegah terjadinya interaksi yang ‘saling merangsang’
antara laki-laki dan perempuan, dengan tetap memungkinkan terjadinya
interaksi yang bersifat ta’awun atau kerjasama dalam rangka memenuhi
kebutuhan masing-masing untuk kemaslahatan bersama di tengah-tengah
masyarakat.
Kalau individu?
Pertama,
individu termasuk remaja harus mencegah dirinya dari melakukan hal-hal
yang akan membangkitkan naluri seksualnya di luar lembaga pernikahan.
Seorang
remaja yang ingin mengendalikan gejolak naluri seksualnya maka dia
harus menghindarkan diri dari hal-hal yang membangkitkannya seperti
kencan dan pacaran, nonton atau membaca tontonan-tontonan/bacaan porno,
bersama-sama dengan teman se-gank membuat pesta seks, ataupun sekedar
melamun dan berfantasi tentang hal-hal cabul dan merangsang birahi.
Semua
hal yang bisa membangkitkan dan membuat naluri seksualnya bergejolak
(baik berupa realita ataukah pemikiran yang dihadirkan tadi) harus
betul-betul dia jauhi.
Kedua,
untuk membantu seorang remaja melakukannya, maka remaja tersebut harus
mencurahkan energinya, menyibukkan hari-harinya dan mengaktifkan
pemikirannya pada hal-hal yang positif dan bisa mengalihkannya dari
pikiran kosong.
Ikut
dalam organisasi siswa intra sekolah, kegiatan kerohanian, kegiatan
ekstra kurikuler, memacu diri untuk selalu berprestasi, aktif dalam
kegiatan keremajaan di masyarakat, olah raga dan berbagai aktivitas
semisal bisa menjadi pilihan remaja menghabiskan waktunya, ketimbang
hanya kongkow-kongkow di pinggir jalan, ngeceng di mall, nonton BF,
ndugem atau clubbing di diskotik-diskotik yang memang sarat dengan
nuansa ‘rangsangan seksual’.
Ketiga,
perbanyak puasa. Islam menganjurkan bagi seseorang yang belum sanggup
menikah dan berkeinginan mengendalikan gejolak naluri seksualnya, untuk
berpuasa.
Puasa ini dilakukan dalam kerangka meningkatkan self controll atau
kemampuan mengendalikan diri yang dimiliki seseorang karena dorongan
ketaqwaan yang dimilikinya