“Bila
Ahmadiyah memang tak menganggap tadzkirah sebagai kita suci dan Mirza
Ghulam sebagai nabi, maka tak jadi masalah. Namun bila tak demikian,
maka sebaiknya Ahmadiyah membuat agama baru. Jangan mengaku sebagai
bagian dari Islam.”
Pernyataan tersebut diungkapkan Rizqi Awal,
Ketua Lajnah Faaliyah HTI Sumedang tatkala menghadiri acara bedah buku
‘Tinjauan Kritis Jemaat Ahmadiyyah Indonesia’ yang diselenggarakan oleh
BEM Fakultas Ilmu Budaya UNPAD (Universitas Padjajaran) di Aula PBJS,
Kampus UNPAD, pada Kamis (10/4)
Kunto Sofianto, P.hD, penulis
yang bukunya dibedah pada kesempatan tersebut memaparkan perjalanan
Ahmadiyah dalam lintasan sejarah Indonesia. “Ahmadiyyah itu sudah lama
ada Indonesia. Bahkan, sejak Indonesia belum merdeka Ahmadiyyah sudah
‘berkembang’,” katanya.
Panelis yang menanggapi buku tersebut,
yakni Mahmud Mubarik, yang juga merupakan PB Jamaah Ahmadiyyah Indonesia
meguatkan fakta sejarahnya. “Ahmadiyah terlibat dalam upaya kemerdekaan
Indonesia. Bahkan, beberapa tokoh kemerdekaan adalah penganut
Ahmadiyyah. Salah satunya WR Supratman,” katanya.
Tak hanya itu,
menurutnya, ajaran ajaran yang ada dalam Ahmadiyah tak jauh beda dengan
Islam. Maka Ia menyatakan tak layak bila Ahmadiyah disesatkan,
diintimidasi, diserang secara fisik dan tak dianggap sebagai bagian dari
warga Negara Indonesia yang berhak dilindungi.
Namun sebagai
pembanding, Dr. Ade Kosasih, Dosen Fakultas Ilmu Budaya UNPAD
menuturkan, bahwa dalam menyelesaikan masalah Ahmadiyah, setiap pihak
mesti bertolak pada pandangan yang komprehensif. “Tak bisa bila hanya
bertolak dari kepentingan Ahmadiyah belaka”, kata Ade.
Ia
menambahkan, “Kita memang tak bisa serampangan untuk menyesatkan paham
paham tertentu. Namun, alangkah wajar bila suatu penganut agama tertentu
merasa terusik bila ada pihak yang merusak keyakinan agama yang
dianutnya.”
Lewat kacamata yang berbeda, Ia juga menuding, bahwa
rentetan konflik yang terkait dengan Ahmadiyah bukan sekedar konflik
pemahaman beragama saja. Karena bila demikian, konflik dapat selesai
dengan mudah melalui dialog.
“Konflik Ahmadiyah yang marak
terjadi lebih karena ditunggangi oleh kepentingan kepentingan politik
sesaat pihak pihak tertentu yang berkepentingan,” pungkasnya.