Kurikulum 2013, Masih dalam Belenggu Kapitalisme

HTI Press, Jambi. Puluhan guru dan dosen dari berbagai lembaga pendidikan di kota Jambi berkumpul mengikuti Diskusi Publik bertemakan “Efektivitas Kurikulum 2013 dalam Membentuk Karakter Anak Bangsa”, hari Ahad (21/9). Acara yang digagas oleh DPD I HTI Provinsi Jambi tersebut bertempat di SMKN 4 Kota Jambi.


Acara yang digelar untuk membahas bagaimana keefektifan Kurikulum 2013 ini mendatangkan Wakil Dekan FKIP Universitas Batanghari Jambi Kasiono, yang dengan rinci mengungkap asal mula munculnya Kurikulum 2013. Kasiono juga menjelaskan Kurikulum 2013 tersebut ditekankan pada pembentukan karakter anak didik.


Di samping Kasiono, hadir pula Direktur Pamong Institute Wahyudi Al Maroky, yang menjelaskan mengenai kemunculan Kurikulum 2013 dari sudut pandang nasional dan global.


“Kurikulum 2013 sebenarnya ada spirit dan peluang untuk memperbaiki karakter bangsa. Namun, sayangnya belum ada yang mengarahkan pada kemandirian dan masih dalam belenggu sistem kapitalisme global.” Ungkapnya.


Senada dengan apa diungkapkan oleh Wahyudi Al Maroky, Ustadz Azis Ibnu Fathoni dari DPP HTI mengatakan bahwa permasalahan pendidikan di Indonesia disebabkan oleh sistem sekuler. Sehingga, solusinya haruslah dikembalikan kepada Islam karena Islam mempunyai sistem pendidikan terbaik yang berasal dari Al Khaliq.


Di dalam acara tersebut, para peserta yang sebagian besar merupakan pelaksana kurikulum di lapangan juga banyak yang mengungkapkan keluh kesah mereka. Salah seorang guru wanita menceritakan bahwa sekolah tempat ia mengajar akan segera didatangi tim penilai untuk dilakukan pemeriksaan terkait pelaksanaan Kurikulum 2013. Padahal instrumen belajar mengajar tidak tersedia secara memadai di sana.


Di akhir acara, seluruh narasumber sepakat bahwa Islam adalah agama yang mampu mengatasi seluruh problematika manusia, termasuk masalah pendidikan. Akan tetapi, untuk mewujudkannya, diperlukan sebuah gerakan bersama. Untuk itu, Ustadz Azis mengajak seluruh elemen pendidikan untuk bersama-sama membangun peradaban Islam melalui pendidikan yang islami. Yang tentu saja tidak dalam bingkai sistem sekularisme seperti saat ini. []


1 2