HTI Press, Kota Bogor. Suasana mendung di Sabtu pagi (31/01) seolah menghadirkan fakta kepada para intelektual yang terdiri dari peneliti dan akademisi yang menghadiri acara Focus Group Discussion (FGD) bertema “Antisipasi Perubahan Iklim Menuju Bogor Yang Aman Dari Bencana di Ruang Rapat Utama Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Kota Bogor.
Acara yang diselenggarakan oleh Lajnah Khusus Intelektual DPD II HTI Kota Bogor tersebut, diawali dengan sambutan Ketua DPD II HTI Kota Bogor Muhammad Irfan.
“Terjadinya kerusakan dimuka bumi ini sebagaimana dituliskan dalam Al-Qur’an salah satunya karena “tangan-tangan manusia”. Kaum intelektual mempunyai peranan penting dalam mencegah terjadinya bencana akibat perbuatan manusia, termasuk berkontribusi mengatasi bencana tersebut saat terjadi,” ungkapnya.
Namun tidak hanya itu, tambah Irfan, peran intelektual muslim pun sangat penting untuk mengajak umat manusia memahami bahwa bencana merupakan sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah.
“Kaum intelektual muslim memiliki tugas dan peran strategis untuk membumikan ayat-ayat dan Syari’at Allah SWT di muka bumi ini,” pungkasnya sekaligus membuka acara FGD.
Dengan difasilitasi oleh Dosen dan Peneliti IPB Dr. Chusnul Arif, diskusi diawali dengan menghadirkan pemateri pertama Prof. (Riset).Dr. Le Istiqlal Amien, M.Sc yang memaparkan tentang Keterkaitan Antara Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Resiko Bencana : Peluang dan Tantangan.
“Penyebab bencana terbagi dua yaitu akibat iklim dan geologi. Kerusakan yang paling besar akibat bencana biasanya lebih besar terjadi dinegara berkembang dibandingkan negara maju. Perbedaan tersebut bisa disebabkan karena perbedaan kecepatan informasi mengenai terjadinya bencana tersebut,” paparnya.
Menurut Profesor ahli bidang Agroklimat dan Pencemaran Lingkungan tersebut, Indonesia termasuk daerah yang cukup rentan terhadap bencana. Adaptasi terhadap bencana di Indonesia masih sangat kurang bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Australia.
Di sesi kedua, Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar memaparkan materi bertema Antisipasi Perubahan Iklim menuju Aman dari Bencana.
“Bencana terbagi tiga yaitu iklim, geologis, dan kegagalan teknologi. Secara spasial ada peta rawan bencana dan peta resiko bencana. Ada kerawanan dan ada resiko, semakin banyak manusia terlatih maka semakin minim resiko bencana. Apabila bencana itu individual/lokal/temporal maka itu persoalan teknis. Tetapi kalau terjadinya bencana itu massif/global/berulang maka itu persoalan sistemik.Sehingga apabila bencana itu bisa diatasi dengan perbaikan teknologi, maka solusinya cukup sistemik-teknis, contoh pembangunan giant-wall, waduk, kanal, pompa untuk mengatasi banjir seperti di Belanda,atau pengawasan kekuatan bangunan seperti di Jepang,”urainya.
“Namun solusi sistemik-teknis ternyata tidak mempan, karena perilaku masyarakat susah berubah,kerakusan ekonomi terus berlanjut, sulit mencari SDM pemeriksa infrakstruktur yang dapat dipercaya, maka diperlukan solusi di atas teknis yaitu solusi sistemik ideologis. Nah solusi sistemik-ideologis itu adalah Islam karena mampu memunculkan harmoni solusi sejak dari paradigma (hakekat tujuan hidup, ukuran kebahagiaan, ukuran keberhasilan negara) serta memberikan inspirasi teknologi maupun non teknologi (dari organizational sampai sikap mental),” lanjut Profesor Riset Pertama di Indonesia di bidang Sistem Informasi Spasial tersebut.
Merespon pertanyaan dari peserta di sesi diskusi, Prof Fahmi mengungkapkan tentang adanya Tata Ruang di zaman Kekhilafahan.
“Contohnya adalah pembangunan Kota Baghdad dimulai dari nol. Sejak dulu tata ruang yang Islami juga ada,” ujarnya kepada peserta FGD. [] MI Kota Bogor