HTI Press, Jakarta. Dengan penuh suasana keakraban sekitar seratus ulama Jabodetabek, Purwakarta, Bandung dan Sumedang menghadiri acara Silaturahmi Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia bersama Ulama: Bersama Umat Tegakkan Khilafah, Kamis (13/8) malam di Kantor DPP HTI, Crown Palace, Jaksel.
Wajar bila bagi mereka yang sudah bertemu sebelumnya, acara yang dikemas semi formal tersebut menjadi ajang reuni. Bagi para ulama yang baru pertama kali datang pun, kedekatan dengan DPP HTI langsung terasa, salah satunya seperti yang ditunjukkan oleh Ustadz Cecep Sonhaji.
Dosen STAI Laa Roiba, Bogor, tersebut mengaku baru dua tahun lalu dikontak aktivis HTI dan baru pertama kali mengikuti acara HTI dan bahkan baru pertama kali melihat Ketua DPP HTI Ustadz Rokhmat S Labib.
“Tapi langsung merasa dekat, karena jauh hari sebelum dikontak saya biasa beli Alwaie lalu Media Umat ke toko Buku Al Amin, saya langsung cocok dengan pemikiran dan perjuangan Hizbut Tahrir dan biasa lihat foto Ustadz, dan Alhamdulillah sekarang bisa melihat langsung,” ujarnya dengan senyum sumringah dan grrrr…. ulama lainnya pun tertawa, sedangkan Ustadz Rokhmat hanya tersipu.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Rokhmat menyinggung sikap pemerintah yang tidak adil dalam memperlakukan umat Islam, salah satunya dalam kasus tindak teror yang dilakukan Gereja Injili di Indonesia (GIDI) terhadap kaum Muslimin yang tengah menjalankan shalat Idul Fitri kemarin.
“Lihatlah Mensos datang ke Tolikara bukannya menengok kaum Muslimin yang diteror malah menengok dan membantu GIDI yang ditembak polisi! Lho padahal mereka ditembak karena kesalahan mereka sendiri yang tak mau menghentikan tindakan brutalnya,” ujar Ustadz Rokhmat.
“Presiden juga malah mengundang GIDI ke Istana,” lanjutnya, “tetapi mereka yang menjadi korban GIDI kok tidak diundang juga? Mengapa?” Tanpa menunggu para ulama menjawab, Ustadz Rokhmat langsung menjawab pertanyaannya sendiri. “Karena pemerintah tahu siapa yang melindungi GIDI, karena pemerintah tahu siapa yang membela GIDI… Amerika!” tegasnya.
Bukan hanya di Indonesia, Rokhmat menjelaskan, di Palestina, Rohingya (Myanmar), Xinjiang (Cina), Pattani (Thailan), Moro (Filipina), Pakistan, Afghanistan, Irak, Suriah dan di belahan dunia lainnya, umat Islam diperlakukan semena-mena, diperkosa, dan juga dibunuhi.
“Mengapa mereka berani mendzalimi umat Islam? Karena mereka tahu umat Islam tidak ada yang melindungi, mereka tahu umat Islam tidak ada yang membela! Karena tidak ada khilafah,” ujar Ustadz Rokhmat sembari mengutip hadits, Sesesungguhnya Imam/Khalifah itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya. (HR Muslim).
Itulah salah satu relevansinya kaum Muslimin melaksanakan kewajiban menegakkan kembali khilafah. “Dan ulama merupakan garda terdepan dalam perjuangan tersebut!” tegas Juru Bicara HTI Ustadz Muhammad Ismail Yusanto.
Sedangkan Gus Jun, anggota Lajnah Khusus Ulama DPP HTI, menjelaskan dalil kewajiban menegakkan khilafah. Lalu menguncinya dengan kalimat, “Ulama dipertanyakan keulamaannya bila tidak mengetahui menegakkan khilafah adalah kewajiban apalagi tidak mau berjuang menegakkannya.”
Mereka tentu saja setuju, makanya mau datang ke acara ini. Seperti orang yang jatuh cinta tentu tidak afdhal bila tidak menyatakan kecintaannya tersebut. Maka Ustadz Munawar yang datang dari Purwakarta berkata, “Saya sangat-sangat setuju dengan Hizbut Tahrir dan saya pun sangat yakin khilafah akan tegak kembali karena sudah dikabarkankan Rasulullah SAW.”
Begitu juga dengan ulama lainnya, sehingga acara yang semestinya selesai 23.30 molor sampai hampir jam 01.00. Pasalnya, sampai acara sudah ditutup pun masih ada ulama yang memaksa untuk menyampaikan perasaannya. “Jangan ditutup dulu, saya jauh-jauh dari Sumedang belum mendapatkan kesempatan bicara,” pinta Ustadz Abdul Qudus dengan tegas sambil berdiri.
“Saya baru halqah Hizbut Tahrir beberapa kali, saya mendukung tegaknya khilafah dan usaha Hizbut Tahrir untuk menegakkan khilafah karena kita cinta kepada Allah!” pungkas kakek berusia 67 tahun tersebut.[] Joko Prasetyo