HTI Press, Sleman. Ahad (9/8), Hizbut Tahrir DPD II Sleman mengadakan Liqa’ Syawal 1436 H untuk mempererat ukhuwah HTI bersama tokoh umat. Liqo’ Syawal kali ini mengangkat tema “Bersama Umat Tegakkan Khilafah”. Acara yang dihadiri oleh puluhan tokoh, ulama, intelektual maupun mahasiswa ini bertempat di rumah makan Joglo Dahar Jalan Kaliurang Km. 9 Yogyakarta.
“Perjuangan menegakkan Khilafah ini bukan hanya tugas Hizbut-Tahrir, melainkan kewajiban kifayah yang harus dilaksanakan oleh seluruh umat Islam. Maka diharapkan panjenengan semua mengenal perjuangan Hizbut-Tahrir.” Tutur Ust Edi Subroto selaku Ketua DPD II HTI Sleman dalam sambutannya.
Tampil sebagai pemateri Ust Suswanta, M.Si., dosen pemerintahan Islam UMY yang juga aktivis HTI Sleman. “Momen syawal tentu merupakan momen berharga, karena jika kita bertemu dengan Bulan Syawal maka tentu sebelumnya kita telah melalui Bulan Ramadhan. Ada dua peristiwa yang khas di Indonesia, pertama fenomena mudik, yang kedua adalah syawalan. Ketika kita memasuki bulan syawal berarti telah menunaikan idul fitri, hari kemenangan. Pertanyaannya apakah kita sudah layak merayakan hari kemenangan?” tanyanya kepada peserta yang hadir. Forum yang dihadiri tidak kurang dari 50 peserta itu tampak terhenyak dengan pertanyaan Ust Suswanta ketika mengawali pemaparan materinya.
“Umat Islam memang sangat banyak jumlahnya, akan tetapi kebanyakan dari mereka terserang penyakit berbahaya, yaitu penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Banyak orang yang sibuk mikirin bagaimana hidup enak tapi lupa memikirkan mati yang enak, ini imbas dari hubbuddunya (cinta dunia, pen).” Imbuhnya.
Dalam sesi tanya jawab seorang peserta menanyakan terkait fatwa MUI yang sempat menyatakan haramnya BPJS. Menjawab pertanyaan tersebut, Ust Suswanta membeberkan bahwa BPJS itu hanyalah kebohongan. Karena yang terjadi bukanlah “jaminan” kesehatan melainkan pemalakan atas nama asuransi.
“Kita malu dengan negara kecil yang tidak sekaya indonesia, yaitu Kuba, yang mampu memberikan jaminan kesehatan secara gratis kepada seluruh rakyatnya.” Tuturnya dengan mimik yang seolah mengungkapkan kekesalannya atas fenomena BPJS.
Adalagi seorang peserta yang menanyakan, mengapa Hizbut-Tahrir mengharamkan demokrasi? Dan mengapa harus Khilafah yang menjadi solusi?
Pertanyaan tersebut dijawabnya dengan suara lantang, “karena demokrasi berasaskan sekuler. Kalaupun ada demokrasi islam, itu juga Islam sekuler. Demokrasi haram karena menjadikan rakyat sebagai pembuat aturan. Dan kenapa harus khilafah, Karena ini adalah perintah Allah untuk menerapkan islam secara kaffah. Dan islam kaffah hanya bisa diterapkan dengan khilafah. Karena itu khilafah dan syariah adalah satu paket”.[]