Oleh : Indra Fakhruddin (Pengamat Sosial Politik di Al Amri Institute)
Banyak kalangan menilai Muktamar NU ke-33 di Jombang yang dilaksanakan pada tanggal 1-5 Agustus 2015 paling mendapat sorotan masyarakat. Mulai ricuhnya registrasi peserta sampai menyentuh akar persoalan pemilihan Rais Aam dinilai kontroversial oleh sebagian kubu yang berseberangan dengan sistem Ahlul Halli Wal Aqdli (AHWA). Sampai-sampai KH A Mustofa Bisri harus turun tangan 'melerai' kedua belah kubu yang gontok-gontokan. Masyarakat menyesalkan riak-riak yang muncul diarena Muktamar Ormas Islam terbesar di Indonesia yang di bidani oleh Hadratu Syeikh Hasyim Asyari itu. Pasalnya, ormas NU menjadi simbol ulama yang seharusnya mampu menjadi prototipe organisasi yang patut menjadi tauladan.
Baca Selengkapnya »Banyak kalangan menilai Muktamar NU ke-33 di Jombang yang dilaksanakan pada tanggal 1-5 Agustus 2015 paling mendapat sorotan masyarakat. Mulai ricuhnya registrasi peserta sampai menyentuh akar persoalan pemilihan Rais Aam dinilai kontroversial oleh sebagian kubu yang berseberangan dengan sistem Ahlul Halli Wal Aqdli (AHWA). Sampai-sampai KH A Mustofa Bisri harus turun tangan 'melerai' kedua belah kubu yang gontok-gontokan. Masyarakat menyesalkan riak-riak yang muncul diarena Muktamar Ormas Islam terbesar di Indonesia yang di bidani oleh Hadratu Syeikh Hasyim Asyari itu. Pasalnya, ormas NU menjadi simbol ulama yang seharusnya mampu menjadi prototipe organisasi yang patut menjadi tauladan.
from Al-Khilafah.org http://ift.tt/1Ir6ttO
via IFTTThttp://ift.tt/1Ir6vBQ